Sejarah Perkembangan Bahasa Arab
Nahwu.top | Ahli bahasa Arab membagi sejarah perkembangan bahasa Arab atas enam periode.
(1) Periode Jahiliah, yang merupakan periode pembentukan dasar-dasar bahasa Arab. Pada periode ini ada kegiatan-kegiatan yang dapat membantu perkembangan bahasa Arab, yakni di Suq (pasar) Ukaz, Zu al-Majaz, dan Majannah yang merupakan festival dan lomba bahasa Arab antara suku Quraisy dan suku-suku lain yang datang ke Mekah untuk berbagai keperluan, yang dapat membentuk suatu bahasa kesusastraan yang baku.
(2) Periode permulaan Islam, yaitu mulai datangnya Islam sampai berdirinya Bani Umayyah. Setelah Islam berkembang luas, terjadilah perpindahan orang-orang Arab ke daerah-daerah baru. Mereka tinggal dan menetap di tengah-tengah penduduk asli, sehingga mulailah terjadi asimilasi dan pembauran yang memperkuat kedudukan bahasa Arab.
(3) Periode Bani Umayyah, yang ditandai dengan intensifikasi percampuran orang-orang Arab Islam dengan penduduk asli. Pada masa pemerintahan Bani Umayyah orang Arab merupakan kelompok aristokrat yang mempunyai ambisi besar untuk mengembangkan kebudayaan mereka dengan cara menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa negara.
Mereka melakukan Arabisasi dalam berbagai bidang kehidupan. Karena itu, penduduk asli mencoba mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa pergaulan dan bahasa agama. Dengan jalan ini, sejak sepertiga akhir abad pertama Hijriah bahasa Arab telah mencapai posisi yang tinggi, terhormat, dan kuat dalam wilayah Islam.
(4) Periode Abbasiyah. Selama periode ini pengembangan bahasa Arab tetap mendapat perhatian. Bani Abbas berkeyakinan bahwa pengaruh dan kejayaan pemerintahan mereka tergantung pada perkembangan dan kemajuan agama Islam dan bahasa Arab. Bahasa Arab Badui masih tetap dipandang sebagai bahasa yang bermutu tinggi dan murni yang harus dikuasai oleh putra-putra Bani Abbas.
Oleh karena itu, pada abad ke-2 H orang-orang Badui didatangkan ke Baghdad untuk menjadi guru-guru bahasa Arab. Namun dominasi bahasa Arab ‘amiyah (pasaran) dalam bahasa percakapan tidak dapat dihindari, baik di kalangan kelas bawah maupun di kalangan penguasa dan para ahli bahasa.
Pada abad ke-4 H, bahasa Arab fusha' (fasih) sudah menjadi bahasa tulisan bagi keperluan administrasi, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Bahasa Arab mulai dipelajari melalui buku-buku dan bahasa fusha' juga mulai berkembang luas.
(5) Sesudah abad ke-5 H, bahasa Arab tidak lagi menjadi bahasa politik dan administrasi pemerintahan, melainkan hanya menjadi bahasa agama semata. Hal ini terjadi setelah dunia Arab terpecah dan diperintah oleh penguasa politik non-Arab. Bani Seljuk mengumumkan bahasa Persia sebagai bahasa resmi negara Islam di bagian Timur, sementara Turki Usmani (Kerajaan Ottoman) yang menguasai dunia Arab lainnya mengumumkan bahasa Turki sebagai bahasa administrasi pemerintahan. Sejak saat itu sampai abad ke-7 H bahasa Arab semakin terdesak dan hanya digunakan sebagai bahasa agama.
Pada abad ke-8 dan ke-9 H, ketika Mesir mengalami masa kejayaan, kehidupan bahasa Arab yang selama ini lesu, akhirnya bangkit dan mengalami kemajuan yang melahirkan kebangkitan sastra di Mesir dan Suriah. Masa statis kembali terjadi ketika Mesir dikuasai Turki Usmani pada tahun 923 H.
(6) Periode bahasa Arab di zaman baru. Bahasa Arab pada periode ini mulai bangkit kembali yang ditandai dengan adanya usaha-usaha pengembangan dari kaum intelektual Mesir yang mendapat pengaruh dari golongan intelektual Eropa yang datang bersama serbuan Napoleon.
Usaha-usaha yang dilakukan untuk pengembangan bahasa Arab pada masa ini adalah sebagai berikut:
Pada periode ini bahasa-bahasa Eropa sudah mulai berpengaruh pada bahasa fusha' dan ‘amiyah. Bahkan orang-orang Arab yang terpengaruh oleh pemikiran Barat mengritik bahasa Arab sebagai bahasa yang rendah, statis, konservatif, dan meng hambat kemajuan.
Dalam keadaan ini, muncul kesadaran sebagian intelektual Arab untuk tetap mempertahankan bahasa Arab tidak hanya sebagai bahasa agama, tetapi juga sebagai bahasa nasional. Untuk mewujudkan gagasan ini, dilakukan berbagai usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Arab. Di antaranya ialah didirikannya Lembaga Bahasa Arab (Majma' al-Lughah al-'Arabiyyah) pada tahun 1934 di Mesir.
Lembaga ini bertujuan antara lain untuk memelihara keutuhan dan kemurnian bahasa Arab fusha' dan melakukan usaha pengembangannya agar menjadi bahasa Arab yang dinamis, maju, dan mampu memenuhi tuntutan kemajuan dunia ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Usaha lainnya ialah mendirikan lembaga pendidikan khusus yang mengajarkan bahasa Arab, tidak hanya berupa institut/universitas, tetapi juga fakultas dan jurusan yang memberi perhatian khusus pada pengajaran bahasa Arab fusha' (seperti Institut Dar al-'Ulum, Fakultas Bahasa Arab Universitas al-Azhar, dan Jurusan Bahasa Arab dan Bahasa-Bahasa Semit pada Fakultas Sastra Universitas Cairo).
Para guru besar yang telah berjasa dalam pengembangan bahasa Arab di Mesir itu antara lain Taha Husein, Ahmad Amin, Ibrahim Mustafa, dan Amin al-Khauli. Perhatian bangsa Arab terhadap pengembangan dan kemajuan bahasa Arab ini tidak hanya terjadi di Mesir, tetapi juga di negara-negara Arab lainnya, seperti Suriah, Arab Saudi, dan Irak.
(1) Periode Jahiliah, yang merupakan periode pembentukan dasar-dasar bahasa Arab. Pada periode ini ada kegiatan-kegiatan yang dapat membantu perkembangan bahasa Arab, yakni di Suq (pasar) Ukaz, Zu al-Majaz, dan Majannah yang merupakan festival dan lomba bahasa Arab antara suku Quraisy dan suku-suku lain yang datang ke Mekah untuk berbagai keperluan, yang dapat membentuk suatu bahasa kesusastraan yang baku.
(2) Periode permulaan Islam, yaitu mulai datangnya Islam sampai berdirinya Bani Umayyah. Setelah Islam berkembang luas, terjadilah perpindahan orang-orang Arab ke daerah-daerah baru. Mereka tinggal dan menetap di tengah-tengah penduduk asli, sehingga mulailah terjadi asimilasi dan pembauran yang memperkuat kedudukan bahasa Arab.

(3) Periode Bani Umayyah, yang ditandai dengan intensifikasi percampuran orang-orang Arab Islam dengan penduduk asli. Pada masa pemerintahan Bani Umayyah orang Arab merupakan kelompok aristokrat yang mempunyai ambisi besar untuk mengembangkan kebudayaan mereka dengan cara menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa negara.
Mereka melakukan Arabisasi dalam berbagai bidang kehidupan. Karena itu, penduduk asli mencoba mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa pergaulan dan bahasa agama. Dengan jalan ini, sejak sepertiga akhir abad pertama Hijriah bahasa Arab telah mencapai posisi yang tinggi, terhormat, dan kuat dalam wilayah Islam.
(4) Periode Abbasiyah. Selama periode ini pengembangan bahasa Arab tetap mendapat perhatian. Bani Abbas berkeyakinan bahwa pengaruh dan kejayaan pemerintahan mereka tergantung pada perkembangan dan kemajuan agama Islam dan bahasa Arab. Bahasa Arab Badui masih tetap dipandang sebagai bahasa yang bermutu tinggi dan murni yang harus dikuasai oleh putra-putra Bani Abbas.
Oleh karena itu, pada abad ke-2 H orang-orang Badui didatangkan ke Baghdad untuk menjadi guru-guru bahasa Arab. Namun dominasi bahasa Arab ‘amiyah (pasaran) dalam bahasa percakapan tidak dapat dihindari, baik di kalangan kelas bawah maupun di kalangan penguasa dan para ahli bahasa.
Pada abad ke-4 H, bahasa Arab fusha' (fasih) sudah menjadi bahasa tulisan bagi keperluan administrasi, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Bahasa Arab mulai dipelajari melalui buku-buku dan bahasa fusha' juga mulai berkembang luas.
(5) Sesudah abad ke-5 H, bahasa Arab tidak lagi menjadi bahasa politik dan administrasi pemerintahan, melainkan hanya menjadi bahasa agama semata. Hal ini terjadi setelah dunia Arab terpecah dan diperintah oleh penguasa politik non-Arab. Bani Seljuk mengumumkan bahasa Persia sebagai bahasa resmi negara Islam di bagian Timur, sementara Turki Usmani (Kerajaan Ottoman) yang menguasai dunia Arab lainnya mengumumkan bahasa Turki sebagai bahasa administrasi pemerintahan. Sejak saat itu sampai abad ke-7 H bahasa Arab semakin terdesak dan hanya digunakan sebagai bahasa agama.
Pada abad ke-8 dan ke-9 H, ketika Mesir mengalami masa kejayaan, kehidupan bahasa Arab yang selama ini lesu, akhirnya bangkit dan mengalami kemajuan yang melahirkan kebangkitan sastra di Mesir dan Suriah. Masa statis kembali terjadi ketika Mesir dikuasai Turki Usmani pada tahun 923 H.
(6) Periode bahasa Arab di zaman baru. Bahasa Arab pada periode ini mulai bangkit kembali yang ditandai dengan adanya usaha-usaha pengembangan dari kaum intelektual Mesir yang mendapat pengaruh dari golongan intelektual Eropa yang datang bersama serbuan Napoleon.
Usaha-usaha yang dilakukan untuk pengembangan bahasa Arab pada masa ini adalah sebagai berikut:
- Bahasa Arab dijadikan bahasa pengantar di sekolah yang baru dibuka di Mesir dan di negeri-negeri lainnya
- Kuliah-kuliah yang diberikan oleh para guru besar asing disampaikan dengan bahasa Arab (setelah melalui penerjemahan)
- Munculnya gerakan menghidupkan warisan kebudayaan lama dan menghidupkan penggunaan kata-kata asli bahasa Arab yang berasal dari bahasa fusha'. Gerakan ini telah berhasil mendorong penerbit dan percetakan di negara-negara Arab untuk mencetak kembali buku-buku sastra Arab dari segala zaman dalam jumlah banyak dan berhasil menerbitkan kembali buku-buku nahwu dan kamus-kamus bahasa Arab.
Pada periode ini bahasa-bahasa Eropa sudah mulai berpengaruh pada bahasa fusha' dan ‘amiyah. Bahkan orang-orang Arab yang terpengaruh oleh pemikiran Barat mengritik bahasa Arab sebagai bahasa yang rendah, statis, konservatif, dan meng hambat kemajuan.
Dalam keadaan ini, muncul kesadaran sebagian intelektual Arab untuk tetap mempertahankan bahasa Arab tidak hanya sebagai bahasa agama, tetapi juga sebagai bahasa nasional. Untuk mewujudkan gagasan ini, dilakukan berbagai usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Arab. Di antaranya ialah didirikannya Lembaga Bahasa Arab (Majma' al-Lughah al-'Arabiyyah) pada tahun 1934 di Mesir.
Lembaga ini bertujuan antara lain untuk memelihara keutuhan dan kemurnian bahasa Arab fusha' dan melakukan usaha pengembangannya agar menjadi bahasa Arab yang dinamis, maju, dan mampu memenuhi tuntutan kemajuan dunia ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Usaha lainnya ialah mendirikan lembaga pendidikan khusus yang mengajarkan bahasa Arab, tidak hanya berupa institut/universitas, tetapi juga fakultas dan jurusan yang memberi perhatian khusus pada pengajaran bahasa Arab fusha' (seperti Institut Dar al-'Ulum, Fakultas Bahasa Arab Universitas al-Azhar, dan Jurusan Bahasa Arab dan Bahasa-Bahasa Semit pada Fakultas Sastra Universitas Cairo).
Para guru besar yang telah berjasa dalam pengembangan bahasa Arab di Mesir itu antara lain Taha Husein, Ahmad Amin, Ibrahim Mustafa, dan Amin al-Khauli. Perhatian bangsa Arab terhadap pengembangan dan kemajuan bahasa Arab ini tidak hanya terjadi di Mesir, tetapi juga di negara-negara Arab lainnya, seperti Suriah, Arab Saudi, dan Irak.
loading...
0 Response to "Sejarah Perkembangan Bahasa Arab"
Post a Comment