Pemerintahan Bangsa Arab Sebelum Datangnya Islam
Nahwu.top | Menurut para ahli sejarah, sebelum Islam datang, pemerintahan di kalangan bangsa Arab dimulai oleh golongan Arab Baidah. Masa kekuasaan mereka dianggap sebagai periode pertama sejarah pemerintahan bangsa Arab. Mereka mendirikan kerajaan kaum Aad, kaum Tsamud dan kerajaan 'al-Ambath (Amaliqah). Bekas-bekas peninggalan dari kerajaan-kerajaan tersebut sudah sulit ditemukan. Diduga kaum Aad mendirikan kerajaannya di daerah al-Ahkaf al-Ramel yang terletak antara Yaman dan Oman. Kerajaan ini pernah juga meluaskan kekuasaannya ke Irak, Syria dan India. Kaum Aad pernah juga mendirikan kerajaan mereka di Juhfah yang terletak antara Mekah dan Yastrib.
Kaum Tsamud mendiami daerah Hijer dan Wadi al-Qura, di antara Hijaz dan Syria. Mereka mendirikan rumah di atas bukit batu yang dipahat seindah mungkin.
Kaum Amaliqah mendirikan kerajaan mereka di Arabia Timur, Oman dan Hijaz. Keturunan mereka tersebar sampai ke Mesir dan Syria. Raja-raja di daerah tersebut termasuk keturunan kaum Amaliqah.
Periode kedua dari pemerintahan bangsa Arab adalah Arab Aribah atau Arab Mutaaribah dan sering pula disebut Qahthaniyah. Mereka mendirikan kerajaan-kerajaan di Yaman. Ada tiga kerajaan besar yang pernah didirikan oleh bangsa Arab periode kedua ini di Yaman, yaitu kerajaan Ma'iniyah, Sabaiyah dan Himyariyah.
Kerajaan Ma'iniyah dalam literatur Latin disebut Minae. Nama kerajaan ini dihubungkan dengan Mina, yaitu sebuah tempat yang terletak di dekat kota Mekah. Raja pertama kerajaan ini bernama Abu Yada. Kerajaan Mainiyah pada masa jayanya berhasil memperluas daerah kekuasaannya sampai ketepi Laut Tengah, Teluk Persia dan Samudera India. Pada masa kerajaan ini, perdagangan mengalami kemajuan. Rute perdagangan melalui Arab Tengah sampai ke dataran tinggi di Hijaz.
Kerajaan Sabaiyah (610-115 SM) membawa kemajuan bagi daerah Yaman. Ibu kota kerajaan yaitu Ma'rib, terletak 3900 kaki di atas permukaan laut. Tidak jauh dari kota ini didirikan suatu bendungan yang terkenal dengan nama bendungan Ma'rib (Sad al-Ma’rib). Para sarjana yang menyelidiki tehnik konstruksi bendungan ini mengakui ketinggian mutu dan nilai arsitekturnya. Bendungan ini berfungsi untuk menampung air dan kemudian pada musim kemarau air itu didistribusikan ke daerah-daerah pertanian. Bendungan yang dibangun pada abad kedua sebelum Masehi ini membawa kemakmuran bagi daerah Yaman. Rusaknya bendungan tersebut dapat membawa mala petaka bagi daerah tersebut.
Kerajaan Himyariyah pada hakekatnya merupakan kelanjutan dari kerajaan Sabaiyah. Para penguasa lebih mementingkan peperangan dan perluasan wilayah dari pembangunan ekonomi. Karena itu mereka melakukan penaklukan ke daerah Persia, Habsyi (Ethiopia) dan daerah-daerah lainnya. Salah seorang raja yang termasyhur adalah Syammar Yar Usy. Raja ini berhasil menaklukkan Samarkand. Raja terakhir Dzu Jadan al-Himyary. Pada masa kekuasaannya agama Nasrani dan Yahudi berkembang di Yaman. Ia dikalahkan oleh Aryath, seorang panglima Najasyi dari Habsyi. Mulai saat itulah Yaman menjadi daerah kekuasaan Habsyi.
Pemerintahan Arab periode ketiga adalah masa golongan Arab Musta‘rabah. Pusat kekuasaan mereka adalah Mekah dan Yastrib. Pada periode ini di bahagian utara jazirah Arab berdiri dua kerajaan yakni Gassasinah dan Hirah. Kedua kerajaan tersebut didirikan oleh bangsa Arab yang berasal dari Yaman dari golongan Arab Aribah. Mereka ini bermukim di bahagian utara jazirah Arab pada waktu daerah tersebut dikuasai oleh kerajaan Himyariyah.
Kerajaan Gassasinah didirikan oleh seorang keturunan Qahthan yang bernama Amar Muzaigiyah bin Amar Mausama' yang berpindah dari Yaman pada akhir abad ketiga Masehi, sesudah runtuhnya bendungan Ma'rib. Pada waktu itu Arab Utara dikuasai oleh kerajaan Salikh yang berhasil mereka kalahkan. Pada perkembangan selanjutnya kerajaan ini dipengaruhi oleh Binzantium dan dijadikan sebagai Buffer State untuk menghadapi Persia. Untuk mempererat hubungan antara Gassasinah dan Bizantium, dimasukkanlah agama Keristen dalam kerajaan Gassasinah. Kerajaan Gassasinah mencapai puncak kejayaannya pada abad ke enam masehi. Pada masa itu kerajaan ini diperintah oleh al Harits bin Jabalah (memerintah 529-569 M). Raja ini berperang melawan tetangganya kerajaan Hirah dan berhasil memperoleh kemenangan sehingga kaisar Yustinianus mengangkatnya sebagai raja untuk seluruh jazirah Arab.
Kerajaan Hirah seperti halnya kerajaan Gassasinah didirikan oleh orang-orang Arab dari Yaman, keturunan al-Manazirah. Karena itu kerajaan ini sering juga disebut kerajaan al-Manazirah. Kerajaan Hirah didirikan pada abad ketiga Masehi dan bertahan sampai dengan datangnya agama Islam. Para sejarawan berbeda pendapat tentang pendiri kerajaan Hirah. Sebahagian di antaranya menganggap Jazimah al-lbrasyi sementara yang lain menganggap Amar bin Hadi bin Nasher, kemanakan Jazimah. Kerajaan Hirah merupakan Buffer State bagi Persia untuk menghadapi Romawi Timur (Bizantium). Menurut cacatan, ada 25 orang raja yang memerintah di antaranya yang termasyhur ialah Amer bin Adi, al-Nukman bin Amru al-Qais, al-Munzir dan al-Nukman III (memerintah 580-602 M). sebagai raja terakhir dari keturunan Lahim selama itu. Selanjutnya kekuasaan dipegang oleh keturunan al-Tayim dengan lyas (memerintah 602-6ll M ) sebagai raja satu-satunya dari keturunan ini. Sesudah itu pemerintah Persia turut mencampuri urusan pemerintahan dan menetapkan salah seorang dari bangsa Persia menjadi raja Hirah. Dengan demikian kekuasaan beralih dari bangsa Arab ke tangan bangsa Persia yang dilanjutkan dengan perampasan tanah-tanah milik orang Arab.
Di daerah Hijaz terdapat pemerintahan yang sudah teratur yaitu di kota Mekah dan Yastrib. Mekah letaknya sangat strategis. Kota ini terletak pada suatu lembah yang dikelilingi oleh pegunungan al-Sarah yang merupakan benteng alam baginya. Jalan keluar masuk dari dan ke Mekah dapat dilakukan melalui tiga pintu. Masing-masing: pintu sebelah selatan menuju Yaman, pintu sebelah barat menuju Laut Merah dan Jeddah dan pintu sebelah utara menuju Yastrib Palestina dan Syria. Kota ini dibangun oleh Nabi lbrahim AS ketika beliau hijrah bersama istrinya Siti Hajar dan anaknya Ismail dari Mesir. Sebelum Nabi lbrahim daerah Mekah didiami oleh keluarga Amaliqah, kemudian oleh keluarga Jurhum yang berasal dari Yaman. Ketika itulah datang Nabi lbrahim bersama keluarganya. Setelah Nabi lbrahim, pemerintahan atas kota Mekah dipegang oleh keturunan Ismail yang telah menikah dengan putri keluarga Jurhum. Sesudah itu kekuasaan atas kota Mekah jatuh ke tangan Bani Huzaah yang memerintah sampai pertengahan abad kelima M. Selanjutnya kaum Quraisy keturunan ismail kembali mengambil alih kekuasaan pada tahun 440 M. dari tangan Bani Huzaah. Kaum Quraisy menatapkan Qusai bin Kilab sebagai pemimpin dan penguasa kota Mekah.
Pada masa pemerintahannya Qusai membentuk suatu dewan pemerintahan yang berfungsi untuk melayani kepentingan pemerintahan dan rakyat. Dewan itu terdiri dari al-Liwa yaitu petugas pembawa panji dalam peperangan, al-Hijabah yaitu petugas yang memegang kunci Ka'bah dan melayani segala urisan yang berhubungan dengannya dan Siqayah al-Haj yaitu petugas yang melayani makanan dan minuman para jemaah haji.
Kota Yastrib yang setelah hijrah berganti namanya menjadi Madinah adalah kota penting kedua sesudah Mekah di Hijas. Tentang siapa pendirinya tidak diketahui dengan jelas. Tetapi menurut dugaan kota ini mula-mula didiami oleh keluarga Amaliqah kemudian datanglah keluarga-keluarga al-Hazraj dan al-Aus dari Yaman. Kedua keluarga inilah yang memegang kekuasaan di Yastrib. Sebelum Islam, datang pula orang-orang Yahudi dan menetap di kota ini sampai dengan hijrah nabi Muhammad. Pada masa permulaan Islam Yastrib menjadi pusat pemerintahan Islam.
Sumber:
Tim Penyusun Textbook Sejarah dan kebudayaan Islam Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Sejarah dan Kebudayaan Islam, 1981/1982.

Kaum Tsamud mendiami daerah Hijer dan Wadi al-Qura, di antara Hijaz dan Syria. Mereka mendirikan rumah di atas bukit batu yang dipahat seindah mungkin.
Kaum Amaliqah mendirikan kerajaan mereka di Arabia Timur, Oman dan Hijaz. Keturunan mereka tersebar sampai ke Mesir dan Syria. Raja-raja di daerah tersebut termasuk keturunan kaum Amaliqah.
Periode kedua dari pemerintahan bangsa Arab adalah Arab Aribah atau Arab Mutaaribah dan sering pula disebut Qahthaniyah. Mereka mendirikan kerajaan-kerajaan di Yaman. Ada tiga kerajaan besar yang pernah didirikan oleh bangsa Arab periode kedua ini di Yaman, yaitu kerajaan Ma'iniyah, Sabaiyah dan Himyariyah.
Kerajaan Ma'iniyah dalam literatur Latin disebut Minae. Nama kerajaan ini dihubungkan dengan Mina, yaitu sebuah tempat yang terletak di dekat kota Mekah. Raja pertama kerajaan ini bernama Abu Yada. Kerajaan Mainiyah pada masa jayanya berhasil memperluas daerah kekuasaannya sampai ketepi Laut Tengah, Teluk Persia dan Samudera India. Pada masa kerajaan ini, perdagangan mengalami kemajuan. Rute perdagangan melalui Arab Tengah sampai ke dataran tinggi di Hijaz.
Kerajaan Sabaiyah (610-115 SM) membawa kemajuan bagi daerah Yaman. Ibu kota kerajaan yaitu Ma'rib, terletak 3900 kaki di atas permukaan laut. Tidak jauh dari kota ini didirikan suatu bendungan yang terkenal dengan nama bendungan Ma'rib (Sad al-Ma’rib). Para sarjana yang menyelidiki tehnik konstruksi bendungan ini mengakui ketinggian mutu dan nilai arsitekturnya. Bendungan ini berfungsi untuk menampung air dan kemudian pada musim kemarau air itu didistribusikan ke daerah-daerah pertanian. Bendungan yang dibangun pada abad kedua sebelum Masehi ini membawa kemakmuran bagi daerah Yaman. Rusaknya bendungan tersebut dapat membawa mala petaka bagi daerah tersebut.
Kerajaan Himyariyah pada hakekatnya merupakan kelanjutan dari kerajaan Sabaiyah. Para penguasa lebih mementingkan peperangan dan perluasan wilayah dari pembangunan ekonomi. Karena itu mereka melakukan penaklukan ke daerah Persia, Habsyi (Ethiopia) dan daerah-daerah lainnya. Salah seorang raja yang termasyhur adalah Syammar Yar Usy. Raja ini berhasil menaklukkan Samarkand. Raja terakhir Dzu Jadan al-Himyary. Pada masa kekuasaannya agama Nasrani dan Yahudi berkembang di Yaman. Ia dikalahkan oleh Aryath, seorang panglima Najasyi dari Habsyi. Mulai saat itulah Yaman menjadi daerah kekuasaan Habsyi.
Pemerintahan Arab periode ketiga adalah masa golongan Arab Musta‘rabah. Pusat kekuasaan mereka adalah Mekah dan Yastrib. Pada periode ini di bahagian utara jazirah Arab berdiri dua kerajaan yakni Gassasinah dan Hirah. Kedua kerajaan tersebut didirikan oleh bangsa Arab yang berasal dari Yaman dari golongan Arab Aribah. Mereka ini bermukim di bahagian utara jazirah Arab pada waktu daerah tersebut dikuasai oleh kerajaan Himyariyah.
Kerajaan Gassasinah didirikan oleh seorang keturunan Qahthan yang bernama Amar Muzaigiyah bin Amar Mausama' yang berpindah dari Yaman pada akhir abad ketiga Masehi, sesudah runtuhnya bendungan Ma'rib. Pada waktu itu Arab Utara dikuasai oleh kerajaan Salikh yang berhasil mereka kalahkan. Pada perkembangan selanjutnya kerajaan ini dipengaruhi oleh Binzantium dan dijadikan sebagai Buffer State untuk menghadapi Persia. Untuk mempererat hubungan antara Gassasinah dan Bizantium, dimasukkanlah agama Keristen dalam kerajaan Gassasinah. Kerajaan Gassasinah mencapai puncak kejayaannya pada abad ke enam masehi. Pada masa itu kerajaan ini diperintah oleh al Harits bin Jabalah (memerintah 529-569 M). Raja ini berperang melawan tetangganya kerajaan Hirah dan berhasil memperoleh kemenangan sehingga kaisar Yustinianus mengangkatnya sebagai raja untuk seluruh jazirah Arab.
Buffer State: Negara kecil yang terletak antara dua negara besar yang bermusuhan dan menjadi perisai bagi salah satunya.Sesudah al-Harits kerajaan Gassasinah mengalami kemunduran akibat pecahan yang terjadi dalam negeri. Raja yang terakhir dari kerajaan ini ialah Jabal bin al-Aiham. Pada tahun 636 M. ia mengerahkan pasukannya untuk menghadang tentara-tentara Muslim dalam pertempuran Yarmuk. tetapi ia ditawan dan kemudian memeluk agama islam. Tidak lama kemudian ia murtad kembali dan melarikan diri ke Konstantinopel.
Kerajaan Hirah seperti halnya kerajaan Gassasinah didirikan oleh orang-orang Arab dari Yaman, keturunan al-Manazirah. Karena itu kerajaan ini sering juga disebut kerajaan al-Manazirah. Kerajaan Hirah didirikan pada abad ketiga Masehi dan bertahan sampai dengan datangnya agama Islam. Para sejarawan berbeda pendapat tentang pendiri kerajaan Hirah. Sebahagian di antaranya menganggap Jazimah al-lbrasyi sementara yang lain menganggap Amar bin Hadi bin Nasher, kemanakan Jazimah. Kerajaan Hirah merupakan Buffer State bagi Persia untuk menghadapi Romawi Timur (Bizantium). Menurut cacatan, ada 25 orang raja yang memerintah di antaranya yang termasyhur ialah Amer bin Adi, al-Nukman bin Amru al-Qais, al-Munzir dan al-Nukman III (memerintah 580-602 M). sebagai raja terakhir dari keturunan Lahim selama itu. Selanjutnya kekuasaan dipegang oleh keturunan al-Tayim dengan lyas (memerintah 602-6ll M ) sebagai raja satu-satunya dari keturunan ini. Sesudah itu pemerintah Persia turut mencampuri urusan pemerintahan dan menetapkan salah seorang dari bangsa Persia menjadi raja Hirah. Dengan demikian kekuasaan beralih dari bangsa Arab ke tangan bangsa Persia yang dilanjutkan dengan perampasan tanah-tanah milik orang Arab.
Di daerah Hijaz terdapat pemerintahan yang sudah teratur yaitu di kota Mekah dan Yastrib. Mekah letaknya sangat strategis. Kota ini terletak pada suatu lembah yang dikelilingi oleh pegunungan al-Sarah yang merupakan benteng alam baginya. Jalan keluar masuk dari dan ke Mekah dapat dilakukan melalui tiga pintu. Masing-masing: pintu sebelah selatan menuju Yaman, pintu sebelah barat menuju Laut Merah dan Jeddah dan pintu sebelah utara menuju Yastrib Palestina dan Syria. Kota ini dibangun oleh Nabi lbrahim AS ketika beliau hijrah bersama istrinya Siti Hajar dan anaknya Ismail dari Mesir. Sebelum Nabi lbrahim daerah Mekah didiami oleh keluarga Amaliqah, kemudian oleh keluarga Jurhum yang berasal dari Yaman. Ketika itulah datang Nabi lbrahim bersama keluarganya. Setelah Nabi lbrahim, pemerintahan atas kota Mekah dipegang oleh keturunan Ismail yang telah menikah dengan putri keluarga Jurhum. Sesudah itu kekuasaan atas kota Mekah jatuh ke tangan Bani Huzaah yang memerintah sampai pertengahan abad kelima M. Selanjutnya kaum Quraisy keturunan ismail kembali mengambil alih kekuasaan pada tahun 440 M. dari tangan Bani Huzaah. Kaum Quraisy menatapkan Qusai bin Kilab sebagai pemimpin dan penguasa kota Mekah.
Pada masa pemerintahannya Qusai membentuk suatu dewan pemerintahan yang berfungsi untuk melayani kepentingan pemerintahan dan rakyat. Dewan itu terdiri dari al-Liwa yaitu petugas pembawa panji dalam peperangan, al-Hijabah yaitu petugas yang memegang kunci Ka'bah dan melayani segala urisan yang berhubungan dengannya dan Siqayah al-Haj yaitu petugas yang melayani makanan dan minuman para jemaah haji.
Kota Yastrib yang setelah hijrah berganti namanya menjadi Madinah adalah kota penting kedua sesudah Mekah di Hijas. Tentang siapa pendirinya tidak diketahui dengan jelas. Tetapi menurut dugaan kota ini mula-mula didiami oleh keluarga Amaliqah kemudian datanglah keluarga-keluarga al-Hazraj dan al-Aus dari Yaman. Kedua keluarga inilah yang memegang kekuasaan di Yastrib. Sebelum Islam, datang pula orang-orang Yahudi dan menetap di kota ini sampai dengan hijrah nabi Muhammad. Pada masa permulaan Islam Yastrib menjadi pusat pemerintahan Islam.
Sumber:
Tim Penyusun Textbook Sejarah dan kebudayaan Islam Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Sejarah dan Kebudayaan Islam, 1981/1982.
loading...
0 Response to "Pemerintahan Bangsa Arab Sebelum Datangnya Islam"
Post a Comment