Tamyiz dalam Bahasa Arab Beserta Contohnya
Tamyiz adalah isim manshub yang menjelaskan kesamaran dzat atau menjelaskan kesamaran nisbat (yang terdapat pada lafazh sebelumnya)
Kesamaran dzat itu ada empat jenis:
Yang pertama adalah 'adad (bilangan), contoh:
اِشْتَرَيْتُ عِشْرِيْنَ قَلَمًا = Aku telah membeli dua puluh pena
مَلَّكْتُ تِسْعِيْنَ نَعْجَةً = Aku memiliki sembilan puluh kambing
Yang kedua adalah ukuran, contoh:
اِشْتَرَيْتُ مَنًّا سَمْنًا = Aku telah membeli dua kati samin
اِشْتَرَيْتُ شِيْرًا أَرْضًا = Aku telah membeli sejengkal tanah
اِشْتَرَيْتُ قَفِيْزًا بُرًّا = Aku telah membeli segenggam jawawut
Keterangan:
Tamyiz yang terdapat pada contoh-contoh di atas semuanya di-nashab-kan oleh lafazh yang ditafsirkannya, yaitu: قَفِيْزًا ، شِيْرًا ، مَنًّا.
Lafazh مَنًّا adalah jenis takaran yang kurang lebih beratnya dua kati, atau 180 mitsqal bila menurut syara', dan menurut 'urf adalah 280 mitsqal .
Yang ketiga adalah serupa dengan ukuran. Contohnya seperti terdapat pada firman Allah berikut:
مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا
kebaikan seberat dzarrahpun... (Az-Zalzalah: 7)
Lafazh خَيْرًا berkedudukan sebagai tamyiz bagi lafazh مِثْقَالَ ذَرَّةٍ.
Yang keempat adalah lafazh yang menjadi cabang bagi tamyiz, contoh:
هَذَا خَاتِمٌ حَدِيْدًا= Ini adalah cincin besi
هَذَا بَابٌ سَاجًا = Ini adalah pintu jati
هَذِهِ جُبَّةٌ خُزًّا = Ini adalah jubah sutera
Keterangan:
Lafazh خَاتِمٌ adalah cabang dari lafazh حَدِيْدًا, karena cincin terbuat dari besi.
Lafazh بَابٌ adalah cabang dari lafazh سَاجًا, karena jati itu jenis dari kayu
Lafazh جُبَّةٌ adalah cabang dari lafazh خُزًّا, karena jubah itu jenis dari sutra
Sedangkan Tamyiz yang menjelaskan kesamaran nisbat adakalanya dipindahkan dari fa'il (dengan kata lain ialah tamyiz yang diungkapkan untuk menjelaskan lafazh yang menjadi gantungan 'amil seperti fa'il), contoh:
تَصَبَّبَ زَيْدٌ عَرْقًا = zaid bercucuran keringatnya
تَفَقَّأَ بَكْرٌ شَحْمًا = Tubuh Bakar berlimpah lemak.
طَابَ مُحَمَّدٌ نَفْسًا = Muhammad baik jiwanya
Contoh lainnya ialah sepeti firman Allah berikut:
وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا
dan kepalaku telah ditumbuhi uban...(Maryam:4)
Keterangan:
Lafazh عَرْقًا berkedudukan sebagai tamyiz yang dipindahkan dari fa'il. Bentuk asalnya ialah:
تَصَبَّبَ عَرْقُ زَيْدٍ = keringat Zaid bercucuran.
Lafazh عَرْقًا menjelaskan tentang fa'il yang berhubungan dengan fi'il.
Lafazh شَحْمًا berkedudukan sebagai tamyiz yang dipindahkan dari fa'il. Bentuk asalnya ialah:
تَفَقَّأَ شَحْمُ بَكْرٍ = Tubuh bakar berlimbah lemak.
Lafazh شَحْمًا menjelaskan tentang fail yang yang berhubungan dengan fi'il.
Lafazh نَفْسًا berkedudukan sebagai tamyiz yang dipindahkan dari fa'il. Bentuk asalnya ialah:
طَابَ نَفْسُ مُحَمَّدٍ = Muhammad jiwanya baik.
Lafazh نَفْسًا menjelaskan tentang fa'il yang berhubungan dengan fi'il.
Lafazh شَيْبًا berkedudukan sebagai tamyiz yang dipindahkan dari fa'il. Bentuk asalnya adalah:
وَاشْتَعَلَ شَيبُ الرَّأْسِ = dan dipenuhi uban kepalaku.
Lafazh شَيْبًا menjelaskan tentang fa'il yang berhubungan dengan fi'il.
Adakalanya dipindahkan dari maf'ul, seperti:
وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا
Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air... (al-Qamar:112)
Keterangan:
Lafazh عُيُونًا berkedudukan sebagai tamyiz yang dipindahkan dari maf'ul karena bentuk asalnya adalah: وَفَجَّرْنَا عُيُونَ الْأَرْضِ = Dan kami jadikan memancar mata air-mata air bumi.
Atau dipindahkan dari selain fa'il dan maf'ul, seperti:
أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا = Aku lebih banyak daripada kamu hartanya. Bentuk asalnya ialah:
مَالِيْ أَكْثَرُ مِنْكَ = hartaku lebih banyak daripada kamu
Contoh lainnya seperti:
زَيْدٌ أَكْرَمُ أَبًا وَأَجْمَلُ مِنْكَ وَجْهًا
Zaid lebih mulia daripada kamu ayahnya dan lebih tampan daripada kamu wajahnya.
Atau tidak dipindahkan dari sesuatupun seperti contoh berikut:
اِمْتَلَأَ اْلاِنَاءُ مَاءً = Berjana itu berlimpah airnya
لِلّه دُرُّهُ فَارِسًا = Alangkah baiknya dia sebagai penunggang kuda
Baca Juga:
Adapun yang menashabkan kepada tamyiz dzat yang samar ialah dzat itu sendiri (yakni yang terkandung pada lafazh sebelumnya). Sedangkan yang menashabkan kepada tamyiz nisbat adalah fi’il yang musnad, yakni yang diungkapkan untuk menjelaskan lafazh yang menjadi gantungan ‘amil.
Tidak diperbolehkan mendahulukan tamyiz atas ‘amilnya secara mutlak. Dalam hal ini sama saja apakah ‘amilnya berupa fi’il mutasharrif atau jamid.
Penjelasan:
Menurut mazhab Sibawaih rahimahullah, tidak diperbolehkan mendahulukan tamyiz atas ‘amilnya. Dalam hal ini sama saja apakah ‘amilnya berupa fi’il mutasharrif atau selain mutasharrif. Untuk itu tidak boleh mengatakan نَفْسًا طَابَ زَيْدٌ sebagaimana tidak boleh juga mengatakan عِنْدِيْ دِرْهَمًا عِشْرُونَ.
Akann tetapi, Imam Kisaiy, Imam Maziniy dan Imam Mubarrad semuanya memperbolehkan mendahulukan ‘amilnya yang mutasharrif. Untuk itu menurut mereka diperbolehkan mengatakan:
نَفْسًا طَابَ زَيْدٌ = Dalam hal jiwa, Zaid orang yang baik
شَيْبًا اِشْتَعَلَ رَأْسِيْ = Uban telah merata di kepalaku
Perkataan penyair berikut juga termasuk ke dalam contoh bab ini.
أَتَهْجُزُ لَيْلَى بِاْلفِرَاقِ حَبِيْبَهَ * وَمَا كَانَ نَفْسًا بِاْلفِرَاقِ تَطِيْبُ
Apakah Laila berhijrah meninggalkan kekasihnya? Padahal tiadalah jiwa itu merasa senang berpisah dengan kekasihnya.
Contoh syair lain:
ضَيَّعْتُ حَزْمِيَ فِي اِبْعَادِيَ اْلأَمَلَأ * وَمَا اَرْعَوَيْتُ وَشَيْبًا رَأْسِيَ اشْتَعَالًا
Aku telah menyia-nyiakan semangatku karena cita-citaku ku singkirkan jauh-jauh, dan aku tidak lagi memberpaiki diriku karena uban telah merata di kepalaku.
Ibnu Malik mendukung pendapat mereka dalam kitab Syarah ‘Umdah, tetapi dalam Alfiyyah ia mengatakan bahwa hal tersebut jarang terjadi pemakaiannya.
Apabila ‘amilnya ternyata bukan fi’il yang mutasharrif, para ahli nahwu melarang mendahulukan tamyiznya tanpa memandang apakah ‘amilnya itu berupa fi’il sungguhan, seperti:
مَا أَحْسَنَ زَيْدًا رَجُلًا = Alangkah baiknya Zaid sebagai laki-laki
Atau berbentuk selain fiil seperti dalam contoh
عِندِيْ عِشْرُوْنَ دِرْهَمًا = Aku memiliki dua puluh dirham
Terkadang ‘amilnya berupa fi’il mutasharrif. Meskipun demikian, semua kalangan ahli nahwu melarang mendahulukan tamyiz atasnya. Hal itu seperti yang terdapat dalam contoh berikut:
كَفَى بِزَيْدٍ رَجُلًا = Cukuplah Zaid sebagai laki-laki.
Sehubungan dengan contoh di atas Anda tidak boleh mendahulukan lafazh رَجُلًا atas lafazh كَفَى sekalipun berbentuk fi’il mutasharrif karena ia mengandung makna fi’il ta’ajjub.
Makna كَفَى بِزَيْدٍ رَجُلًا = Cukuplah Zaid sebagai laki-laki, sama dengan makna yang terkandung di dalam perkataan lainnya, yaitu: مَا أَكْفَاهُ رَجُلًا = Alangkah cukupnya dia (Zaid) sebagai laki-laki.
Demikianlah artikel tentang Tamyiz dalam Bahasa Arab Beserta Contohnya ini saya buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca, dan sampai jumpa di artikel selanjutnya!
Kesamaran dzat itu ada empat jenis:
Yang pertama adalah 'adad (bilangan), contoh:
اِشْتَرَيْتُ عِشْرِيْنَ قَلَمًا = Aku telah membeli dua puluh pena
مَلَّكْتُ تِسْعِيْنَ نَعْجَةً = Aku memiliki sembilan puluh kambing
Yang kedua adalah ukuran, contoh:
اِشْتَرَيْتُ مَنًّا سَمْنًا = Aku telah membeli dua kati samin
اِشْتَرَيْتُ شِيْرًا أَرْضًا = Aku telah membeli sejengkal tanah
اِشْتَرَيْتُ قَفِيْزًا بُرًّا = Aku telah membeli segenggam jawawut

Keterangan:
Tamyiz yang terdapat pada contoh-contoh di atas semuanya di-nashab-kan oleh lafazh yang ditafsirkannya, yaitu: قَفِيْزًا ، شِيْرًا ، مَنًّا.
Lafazh مَنًّا adalah jenis takaran yang kurang lebih beratnya dua kati, atau 180 mitsqal bila menurut syara', dan menurut 'urf adalah 280 mitsqal .
Yang ketiga adalah serupa dengan ukuran. Contohnya seperti terdapat pada firman Allah berikut:
مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا
kebaikan seberat dzarrahpun... (Az-Zalzalah: 7)
Lafazh خَيْرًا berkedudukan sebagai tamyiz bagi lafazh مِثْقَالَ ذَرَّةٍ.
Yang keempat adalah lafazh yang menjadi cabang bagi tamyiz, contoh:
هَذَا خَاتِمٌ حَدِيْدًا= Ini adalah cincin besi
هَذَا بَابٌ سَاجًا = Ini adalah pintu jati
هَذِهِ جُبَّةٌ خُزًّا = Ini adalah jubah sutera
Keterangan:
Lafazh خَاتِمٌ adalah cabang dari lafazh حَدِيْدًا, karena cincin terbuat dari besi.
Lafazh بَابٌ adalah cabang dari lafazh سَاجًا, karena jati itu jenis dari kayu
Lafazh جُبَّةٌ adalah cabang dari lafazh خُزًّا, karena jubah itu jenis dari sutra
Sedangkan Tamyiz yang menjelaskan kesamaran nisbat adakalanya dipindahkan dari fa'il (dengan kata lain ialah tamyiz yang diungkapkan untuk menjelaskan lafazh yang menjadi gantungan 'amil seperti fa'il), contoh:
تَصَبَّبَ زَيْدٌ عَرْقًا = zaid bercucuran keringatnya
تَفَقَّأَ بَكْرٌ شَحْمًا = Tubuh Bakar berlimpah lemak.
طَابَ مُحَمَّدٌ نَفْسًا = Muhammad baik jiwanya
Contoh lainnya ialah sepeti firman Allah berikut:
وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا
dan kepalaku telah ditumbuhi uban...(Maryam:4)
Keterangan:
Lafazh عَرْقًا berkedudukan sebagai tamyiz yang dipindahkan dari fa'il. Bentuk asalnya ialah:
تَصَبَّبَ عَرْقُ زَيْدٍ = keringat Zaid bercucuran.
Lafazh عَرْقًا menjelaskan tentang fa'il yang berhubungan dengan fi'il.
Lafazh شَحْمًا berkedudukan sebagai tamyiz yang dipindahkan dari fa'il. Bentuk asalnya ialah:
تَفَقَّأَ شَحْمُ بَكْرٍ = Tubuh bakar berlimbah lemak.
Lafazh شَحْمًا menjelaskan tentang fail yang yang berhubungan dengan fi'il.
Lafazh نَفْسًا berkedudukan sebagai tamyiz yang dipindahkan dari fa'il. Bentuk asalnya ialah:
طَابَ نَفْسُ مُحَمَّدٍ = Muhammad jiwanya baik.
Lafazh نَفْسًا menjelaskan tentang fa'il yang berhubungan dengan fi'il.
Lafazh شَيْبًا berkedudukan sebagai tamyiz yang dipindahkan dari fa'il. Bentuk asalnya adalah:
وَاشْتَعَلَ شَيبُ الرَّأْسِ = dan dipenuhi uban kepalaku.
Lafazh شَيْبًا menjelaskan tentang fa'il yang berhubungan dengan fi'il.
Adakalanya dipindahkan dari maf'ul, seperti:
وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا
Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air... (al-Qamar:112)
Keterangan:
Lafazh عُيُونًا berkedudukan sebagai tamyiz yang dipindahkan dari maf'ul karena bentuk asalnya adalah: وَفَجَّرْنَا عُيُونَ الْأَرْضِ = Dan kami jadikan memancar mata air-mata air bumi.
Atau dipindahkan dari selain fa'il dan maf'ul, seperti:
أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا = Aku lebih banyak daripada kamu hartanya. Bentuk asalnya ialah:
مَالِيْ أَكْثَرُ مِنْكَ = hartaku lebih banyak daripada kamu
Contoh lainnya seperti:
زَيْدٌ أَكْرَمُ أَبًا وَأَجْمَلُ مِنْكَ وَجْهًا
Zaid lebih mulia daripada kamu ayahnya dan lebih tampan daripada kamu wajahnya.
Atau tidak dipindahkan dari sesuatupun seperti contoh berikut:
اِمْتَلَأَ اْلاِنَاءُ مَاءً = Berjana itu berlimpah airnya
لِلّه دُرُّهُ فَارِسًا = Alangkah baiknya dia sebagai penunggang kuda
Syarat-syarat Tamyiz
Tamyiz tidak terbentuk kecuali nakirah dan tidak pula terbentuk kecuali sesudah kalam sempurna dengan makna yang telah dikemukakan pada bab haal (yaitu hendaknya terletak sesudah jumlah yang sempurna.Baca Juga:
Adapun yang menashabkan kepada tamyiz dzat yang samar ialah dzat itu sendiri (yakni yang terkandung pada lafazh sebelumnya). Sedangkan yang menashabkan kepada tamyiz nisbat adalah fi’il yang musnad, yakni yang diungkapkan untuk menjelaskan lafazh yang menjadi gantungan ‘amil.
Tidak diperbolehkan mendahulukan tamyiz atas ‘amilnya secara mutlak. Dalam hal ini sama saja apakah ‘amilnya berupa fi’il mutasharrif atau jamid.
Penjelasan:
Menurut mazhab Sibawaih rahimahullah, tidak diperbolehkan mendahulukan tamyiz atas ‘amilnya. Dalam hal ini sama saja apakah ‘amilnya berupa fi’il mutasharrif atau selain mutasharrif. Untuk itu tidak boleh mengatakan نَفْسًا طَابَ زَيْدٌ sebagaimana tidak boleh juga mengatakan عِنْدِيْ دِرْهَمًا عِشْرُونَ.
Akann tetapi, Imam Kisaiy, Imam Maziniy dan Imam Mubarrad semuanya memperbolehkan mendahulukan ‘amilnya yang mutasharrif. Untuk itu menurut mereka diperbolehkan mengatakan:
نَفْسًا طَابَ زَيْدٌ = Dalam hal jiwa, Zaid orang yang baik
شَيْبًا اِشْتَعَلَ رَأْسِيْ = Uban telah merata di kepalaku
Perkataan penyair berikut juga termasuk ke dalam contoh bab ini.
أَتَهْجُزُ لَيْلَى بِاْلفِرَاقِ حَبِيْبَهَ * وَمَا كَانَ نَفْسًا بِاْلفِرَاقِ تَطِيْبُ
Apakah Laila berhijrah meninggalkan kekasihnya? Padahal tiadalah jiwa itu merasa senang berpisah dengan kekasihnya.
Contoh syair lain:
ضَيَّعْتُ حَزْمِيَ فِي اِبْعَادِيَ اْلأَمَلَأ * وَمَا اَرْعَوَيْتُ وَشَيْبًا رَأْسِيَ اشْتَعَالًا
Aku telah menyia-nyiakan semangatku karena cita-citaku ku singkirkan jauh-jauh, dan aku tidak lagi memberpaiki diriku karena uban telah merata di kepalaku.
Ibnu Malik mendukung pendapat mereka dalam kitab Syarah ‘Umdah, tetapi dalam Alfiyyah ia mengatakan bahwa hal tersebut jarang terjadi pemakaiannya.
Apabila ‘amilnya ternyata bukan fi’il yang mutasharrif, para ahli nahwu melarang mendahulukan tamyiznya tanpa memandang apakah ‘amilnya itu berupa fi’il sungguhan, seperti:
مَا أَحْسَنَ زَيْدًا رَجُلًا = Alangkah baiknya Zaid sebagai laki-laki
Atau berbentuk selain fiil seperti dalam contoh
عِندِيْ عِشْرُوْنَ دِرْهَمًا = Aku memiliki dua puluh dirham
Terkadang ‘amilnya berupa fi’il mutasharrif. Meskipun demikian, semua kalangan ahli nahwu melarang mendahulukan tamyiz atasnya. Hal itu seperti yang terdapat dalam contoh berikut:
كَفَى بِزَيْدٍ رَجُلًا = Cukuplah Zaid sebagai laki-laki.
Sehubungan dengan contoh di atas Anda tidak boleh mendahulukan lafazh رَجُلًا atas lafazh كَفَى sekalipun berbentuk fi’il mutasharrif karena ia mengandung makna fi’il ta’ajjub.
Makna كَفَى بِزَيْدٍ رَجُلًا = Cukuplah Zaid sebagai laki-laki, sama dengan makna yang terkandung di dalam perkataan lainnya, yaitu: مَا أَكْفَاهُ رَجُلًا = Alangkah cukupnya dia (Zaid) sebagai laki-laki.
Demikianlah artikel tentang Tamyiz dalam Bahasa Arab Beserta Contohnya ini saya buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca, dan sampai jumpa di artikel selanjutnya!
loading...
Alhamdulillah syukran sngat bermanfaat akh,
ReplyDeleteAfwan, mw nanya,
هذه جبة خزا
Kenapa jubah nashab, tidak marfu'? Bukankah yang menjadi tamyiz adalah خز ?
Alhamdulillah,
ReplyDeleteAfwan akh, itu kesalahan pengetikan, sudah Kami ganti harakat nya. Syukran Akh sudah berkomentar.