Penjelasan Tentang Naibul Fa'il
Maf'ul yang tidak disebut fa'il-nya ialah isim marfu' yang tidak disebut fa'il-nya, dan kedudukannya diganti oleh maf'ul bih, lalu jadilah isim marfu' setelah terlebih dahulu di-nashab-kan, dan jadilah bagian dari fi'il ('umdah) setelah terlebih dahulu dijadikan pelengkap kalam (fudhlah). Tidak boleh dibuang dan tidak boleh didahulukan atas fi'il-nya.
Contoh:
قُرِأَ اْلكِتَابُ asalnya قَرَأَ زَيْدُ اْلكِتَابَ
Contoh:
ضُرِبَتْ هِنْدٌ = Hindun telah dipukul
Contoh lainnya seperti firman Allah ta'ala:
اِذَا زُلْزِلَتِ اْلاَرْضُ = "Apabila bumi diguncangkan". (Az-Zalzalah:1).
Wajib hendaknya fi'il tidak menyertakan tanda tatsniyah atau tanda jamak bilamana maf'ul yang tidak disebutkan fa'il-nya itu mutsanna atau jamak, seperti dalam contoh:
ضُرِبَ الزَّيْدَانِ = Kedua Zaid itu telah dipukul
ضُرِبَ الزَّيْدُوْنَ = Zaid-zaid itu telah dipukul
Maf'ul yang tidak disebut fa'il-nya itu dinamakan juga naibul fa'il. Sebutan ini lebih baik dan lebih singkat dibandingkan dengan sebutan pertama, yaitu maf'ul yang tidak disebutkan fa'il-nya. Fi'il-nya disebut fi'il mabni lil maf'ul atau fi'il mabni lil majhul, atau fi'il yang tidak disebut fa'il-nya.
Keterangan:
Dinamakan mabni maf'ul sebab menjadi sandaran maf'ul, dan dinamakan mabni majhul sebab fa'il-nya tidak diketahui.
ضُرِبَ زَيْدٌ = Zaid telah dipukul
يُضْرَبُ زَيْدٌ = Zaid sedang dipukul
Bilamana fi'il madhi diawali dengan ta zaidah (tambahan), dhammahkanlah huruf awal dan huruf keduanya, misalnya, تَعَلَّمَ menjadi تُعُلِّمَ, dan تَضَارَبَ menjadi تُضُوْرِبَ. Bilamana fi'il madhi diawali dengan hamzah washal, maka dhammahkanlah huruf awal dan huruf ketiganya, misal: اِنْطَلَقَ menjadi اُنْطُلِقَ, dan اِسْتَخْرَجَ menjadi اُسْتُخْرِجَ.
Bila mana fi'il madhi itu mu'tal 'ain seperti lafazh قَالَ \ بَاعَ \ سَاءَ cara membacanya ada beberapa macam, yaitu:
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ = Dan apabila dibacakan Al Quran... (Al-A'raf:204)
ضُرِبَ مَثَلٌ = telah dibuat perumpamaan... (Al-Hajj:73)
قُضِيَ الْأَمْرُ = Telah diputuskan perkara ... (Yusuf:41)
قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ = Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta... (Adz-dzariyat:10)
يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ = Orang-orang yang berdosa dikenal... (Ar-Rahman:41).
Sedangkan naibul fa'il yang mudhmar, seperti contoh berikut:
ضُرِبْتُ = Aku telah dipukul
ضُرِبْنَا = Kami telah dipukul
ضُرِبْتَ = Kamu telah dipukul
Dan seterusnya, dan hal ini telah dikemukakan. Akan tetapi fi'il-nya dimabni maf'ul-kan.
Yang pertama ialah maf'ul bih, seperti halnya telah dikemukakan.
Yang kedua ialah zharaf, seperti dalam contoh:
جُلِسَ أَمَامَكَ = Di hadapanmu telah diduduki
صِيْمَ رَمَضَانُ = Bulan ramadhan telah dipuasai
Yang ketiga ialah jar majrur, seperti dalam contoh:
وَلَمَّا سُقِطَ فِي أَيْدِيهِمْ = Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya... (Al-A'raf149)
Yang keempat ialah mashdar, seperti dalam contoh:
فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ = Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup...(Al-Haaqah:13)
Pada umumnya tidak boleh menggantikan fa'il selain maf'ul bih seandainya maf'ul bih ada, sebab maf'ul bih itu dekat sekali kaitannya dengan fa'il.
Jika fi'il itu muta'addi kepada dua maf'ul, maka salah satunya dijadikan naibul fa'il dan maf'ul yang kedua dinashabkan, seperti dalam contoh:
أُعْطِيَ زَيْدٌ دِرْهَمًا = Uang Dirham telah diberikan kepada Zaid. Bentuk asalnya adalah أُعْطِيَ بَكْرٌ زَيْدًا دِرْهَمًا = Bakar telah memberikan uang dirham kepada Zaid.
Terimakasih telah membaca Penjelasan Tentang Naibul Fa'il, sampai jumpa pada pembahasan selanjutnya, Salam.
Contoh:
قُرِأَ اْلكِتَابُ asalnya قَرَأَ زَيْدُ اْلكِتَابَ

Ketentuan Bagi Naibul Fa'il
Wajib ta'nits fi'il bilamana isim maf'ul muannats (hakiki).Contoh:
ضُرِبَتْ هِنْدٌ = Hindun telah dipukul
Contoh lainnya seperti firman Allah ta'ala:
اِذَا زُلْزِلَتِ اْلاَرْضُ = "Apabila bumi diguncangkan". (Az-Zalzalah:1).
Wajib hendaknya fi'il tidak menyertakan tanda tatsniyah atau tanda jamak bilamana maf'ul yang tidak disebutkan fa'il-nya itu mutsanna atau jamak, seperti dalam contoh:
ضُرِبَ الزَّيْدَانِ = Kedua Zaid itu telah dipukul
ضُرِبَ الزَّيْدُوْنَ = Zaid-zaid itu telah dipukul
Maf'ul yang tidak disebut fa'il-nya itu dinamakan juga naibul fa'il. Sebutan ini lebih baik dan lebih singkat dibandingkan dengan sebutan pertama, yaitu maf'ul yang tidak disebutkan fa'il-nya. Fi'il-nya disebut fi'il mabni lil maf'ul atau fi'il mabni lil majhul, atau fi'il yang tidak disebut fa'il-nya.
Keterangan:
Dinamakan mabni maf'ul sebab menjadi sandaran maf'ul, dan dinamakan mabni majhul sebab fa'il-nya tidak diketahui.
Bentuk F'il-nya
Bila mana fi'il berupa fi'il madhi, dhammah-kanlah huruf awalnya dan kasrah-kan huruf sebelum akhirnya. Bila mana fi'il-nya berupa fi'il mudhari', maka dhammah-kanlah huruf awalnya dan fathahkan huruf sebelum akhirnya, seperti dalam contoh:ضُرِبَ زَيْدٌ = Zaid telah dipukul
يُضْرَبُ زَيْدٌ = Zaid sedang dipukul
Bilamana fi'il madhi diawali dengan ta zaidah (tambahan), dhammahkanlah huruf awal dan huruf keduanya, misalnya, تَعَلَّمَ menjadi تُعُلِّمَ, dan تَضَارَبَ menjadi تُضُوْرِبَ. Bilamana fi'il madhi diawali dengan hamzah washal, maka dhammahkanlah huruf awal dan huruf ketiganya, misal: اِنْطَلَقَ menjadi اُنْطُلِقَ, dan اِسْتَخْرَجَ menjadi اُسْتُخْرِجَ.
Bila mana fi'il madhi itu mu'tal 'ain seperti lafazh قَالَ \ بَاعَ \ سَاءَ cara membacanya ada beberapa macam, yaitu:
- Boleh mengkasrahkan fa fi'il, lalu menjadikan ya sebagai 'ain fi'il walaupun asalnya waw, misalnya lafazh قَالَ menjadi قِيْلَ dan بَاعَ menjadi بِيْعَ.
- Boleh meng-isymam-kan kasrah kepada dhammah, yaitu mencampurkan bunyi kasrah dengan sedikit suara dhammah.
- Boleh men-dhammah-kan fa fi'il, lalu menjadikan waw yang disukunkan sebagai 'ain fi'il sekalipun asalnya ya, misal: قَالَ menjadi قُوْلَ , dan بَاعَ menjadi بُوْعَ
Pembagian Naibul Fa'il
Naibul fa'il terbagi dua bagian, yaitu dhahir dan mudhmar, Naibul dhahir seperti dalam contoh berikut:وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ = Dan apabila dibacakan Al Quran... (Al-A'raf:204)
ضُرِبَ مَثَلٌ = telah dibuat perumpamaan... (Al-Hajj:73)
قُضِيَ الْأَمْرُ = Telah diputuskan perkara ... (Yusuf:41)
قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ = Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta... (Adz-dzariyat:10)
يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ = Orang-orang yang berdosa dikenal... (Ar-Rahman:41).
Sedangkan naibul fa'il yang mudhmar, seperti contoh berikut:
ضُرِبْتُ = Aku telah dipukul
ضُرِبْنَا = Kami telah dipukul
ضُرِبْتَ = Kamu telah dipukul
Dan seterusnya, dan hal ini telah dikemukakan. Akan tetapi fi'il-nya dimabni maf'ul-kan.
Lafazh-lafazh yang Dijadikan Naibul Fa'il
Fa'il dapat diganti kedudukannya oleh salah satu di antara empat perkaraYang pertama ialah maf'ul bih, seperti halnya telah dikemukakan.
Yang kedua ialah zharaf, seperti dalam contoh:
جُلِسَ أَمَامَكَ = Di hadapanmu telah diduduki
صِيْمَ رَمَضَانُ = Bulan ramadhan telah dipuasai
Yang ketiga ialah jar majrur, seperti dalam contoh:
وَلَمَّا سُقِطَ فِي أَيْدِيهِمْ = Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya... (Al-A'raf149)
Yang keempat ialah mashdar, seperti dalam contoh:
فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ = Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup...(Al-Haaqah:13)
Pada umumnya tidak boleh menggantikan fa'il selain maf'ul bih seandainya maf'ul bih ada, sebab maf'ul bih itu dekat sekali kaitannya dengan fa'il.
Jika fi'il itu muta'addi kepada dua maf'ul, maka salah satunya dijadikan naibul fa'il dan maf'ul yang kedua dinashabkan, seperti dalam contoh:
أُعْطِيَ زَيْدٌ دِرْهَمًا = Uang Dirham telah diberikan kepada Zaid. Bentuk asalnya adalah أُعْطِيَ بَكْرٌ زَيْدًا دِرْهَمًا = Bakar telah memberikan uang dirham kepada Zaid.
Terimakasih telah membaca Penjelasan Tentang Naibul Fa'il, sampai jumpa pada pembahasan selanjutnya, Salam.
loading...
0 Response to "Penjelasan Tentang Naibul Fa'il"
Post a Comment